Saudaraku, Perhatikan Sholatmu

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

]فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا [ (مريم : 59)

“Kemudian datanglah setelah mereka, pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti syahwatnya (keinginannya), maka mereka kelak akan tersesat”(QS; Maryam :59)

Ulama kita, sebagai kaum yang dikaruniai ke-faqih-an (pemahaman) dalam perkara-perkara Dien (Agama) ini, mengomentari ayat diatas; bahwa penyebab mereka terjatuh ke dalam jurang kesesatan adalah kebiasaan mengulur-ulur waktu shalat, sehingga mereka mengerjakannya diluar waktunya. Abdullah Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ketika seseorang berkata kepada beliau, “Sesungguhnya Allah begitu sering menyinggung perkara shalat dalam al-Qur’an : ‘Yaitu orang-orang yang lalai terhadap shalatnya’ (QS.al-Ma’un :5), ‘Mereka yang tetap setia melaksanakan shalatnya’ (QS.al-Ma’arij :23), ‘Dan orang-orang yang memelihara shalatnya’,” beliau berkata: “Yaitu shalat pada waktunya.” (QS.al-Ma’arij:34)[1]

Saudaraku seiman!

Sebelum lebih jauh membaca tulisan ini, alangkah baiknya jika kita mendengarkan nasehat Nabi kita r tercinta, yang sekaligus ancaman atas perkara meremehkan shalat. Beliau suatu ketika berkata kepada sahabatnya :

هل تدرون ما يقول ربكم عز وجل ؟ قالوا : الله ورسوله أعلم, قالها ثلاثا, قال : وعزتي وجلالي لا يصليها عبد لوقتها إلا أدخلته الجنة ومن صلاها لغير وقتها إن شئت رحمته وإن شئت عذبته (حديث حسن رواه الطبراني, انظر المعجم الكبير رقم: 10555, 228/1)

“Apakah kalian tahu apa yang Rabb kalian katakan?,” para sahabat menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih tahu,” (beliau mengulanginya sebanyak tiga kali). Kemudian beliau berkata: “Dia (Allah) berfirman, ‘Demi kemuliaan & keagungan-Ku tidaklah seseorang shalat pada waktunya kecuali Aku masukkan ia ke dalam Surga, dan tidaklah seseorang shalat di luar waktunya, jika Aku mau Aku merahmatinya, dan jika tidak, Aku akan mengadzabnya’.”(HR.at-Thabrani)[2]

Cukuplah hadits ini sebagai ‘cambuk panas’ yang menggetarkan atas kelalaian kita selama ini. Betapa tidak, jika shalat yang dikerjakan di luar waktunya saja, kata adzab ‘siksaan’ seakan telah ‘merobek gendang telinga’ kita, lalu bagaimana lagi dengan keberanian meninggalkannya secara mutlaq, yang konsekwensinya adalah kekufuran yang mengundang murka Allah U.

Maka pantaslah, jika Nabi yang penuh kasih terhadap ummatnya, begitu perhatian terhadap perkara ini, tak terkecuali ketika beliau dalam keadaan sakaratulmaut, ungkapan paling akhir yang keluar dari lisan mulia Beliau adalah :

الصلاة… الصلاة…و ما ملكت أيمانكم ( أخرجه الحاكم في المستدرك رقم: 4388)

“Aku wanti-wantikan kepada kalian perkara shalat, serta budak-budak yang kalian miliki.”(HR.al-Hakim)[3]

Ini tiada lain karena Shalat adalah perkara yang sangat krusial dalam ad-Dien (agama) ini.

Saudaraku!

Jadikanlah Beliau ‘qudwah’ kita dalam ibadah ini. Aisyah radhiallahu anha telah meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah r shalat malam hingga kaki beliau bengkak (disebabkan lama beliau berdiri), maka Aisyah berkata: “Ya Rasulullah, mengapa engkau sampai melakukan hal seperti ini, padahal Allah U telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?”, Beliau pun menjawab: “Wahai Aisyah, (jika demikian) apakah Aku tidak pantas menjadi hamba yang paling bersyukur?”[4]

Demikian halnya dengan para sahabat Nabi radhiallahu anhum. Lihatlah sahabat mulia Umar bin al-Khatthab radhiallahu ‘anhu, setelah beliau selesai shalat malam, beliau membangunkan keluarganya sambil berkata, “Shalat…shalat…!” kemudian membaca firman AllahU

] وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوى[ َ(طه:132)

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat yang baik diakhirat adalah bagi orang yang bertaqwa.”(QS.Thaha : 132)[5]

Bahkan ketika beliau ditikam oleh Abu lu’lu’ al-Majusi. Peristiwa yang mengantarkan beliau menggapai syahadah fi sabilillah. Ketika itu beliau sempat tidak sadarkan diri dalam beberapa hari, maka para Sahabat ingin membangunkan beliau untuk shalat, salah seorang diantara mereka berkata “bangunkanlah dia untuk shalat, sesungguhnya kalian tidaklah membangunkannya kecuali karena shalat”, mereka pun berkata “shalat..shalat ya Amir al-Mu’minin..!”, tiba-tiba beliau kaget dan terbangun sambil berkata: “Shalat..shalat..sesungguhnya tiada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat”. Maka beliaupun mengerjakan shalat sementara darah beliau masih terus bercucuran.[6]

Itulah yang membedakan antara kita dengan mereka–para Sahabat radhiallahu anhum–dalam menunaikan amanah ini. Generasi terbaik; alumni Madrasatunnubuwah; hasil tarbiyah Nabi r selama kurang lebih dua puluh tiga tahun.

(1) Lih. Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim, surat Maryam : 59

(2) Hadits hasan riwayat at-Thabrany no.10555, 1/228, dari Abdullah bin Mas’udradiallahu

‘anhu

(1) HR.al-Hakim dalam al-Mustadrak, no :4388, dari Anas bin Malik Radiallahu ‘Anhu

(2) HR.Muslim no :2820, 4/2172 dari ‘Aisyah Radiallahu ‘Anhu; al-Bukhari, no:1078,1/380,

at-T irmidzi, no :412, 2/268 dan an-Nasa’i, no :1644, 3/219, 1/380, dari sahabat al-Mugirah

bin Syu’bah Radiallahu ‘Anhu

(3) HR.al-Imam Malik dalam al-Muwattha, kitab as-Shalah bab Ma Ja’a fi Shalat al-Lail no.5

(4) Lih. as-Sirah oleh Ibnu Hibban, bab A’malu Umar ibnu al-Khatthab min as-Sanah

as-Tsaminah ‘Asyar Hatta Wafatihi. Lih. juga Tarikh al-Islam, Sanata Tsamanin wa

al-‘Isyrin (al-Wafiyat)

By : Pena Muslim

http://www.drantauan.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: