AYAH, BUNDA, Inilah Jalan Kita

Allah mahatahu bahwa dia adalah anak yang menyayangi ibu dan ayahnya. Sayang karena Allah. Bukan semata sayang karena nurani, namun Allah yang memerintahkannya untuk merendahkan “naungan” kasih sayang terhadap mereka berdua. “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayangdan ucapkanlah, “wahai Rabbku, kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil” (terj. Al-Israa’:24)

Dia Dahulu Semasa Di Buaian Hingga Masa Bersepeda Roda Empat

Dibuai oleh ibu dan ayah berganti-gantian. Ibu adalah wanita penyabar yang rendah hati dan tak banyak mengeluh. Ayah pun mencari nafkah tanpa banyak bicara tentang lelahnya bekerja seharian. Ibu dan ayah begitu sayang padanya.

Dia belum bisa berjalan , baru belajar berdiri. Berulangkali melangkah, sebanyak itu pula ia terkantuk. Akan tetapi tangan ayah selalu mengawasi dan siap menahannya agar tak terjerembab ke lantai. Jangan sampai ada luka, walau sekedar segores lecet.

Ibu tahu kesusahannya karena hidung yang tak mampu bernapas lega. Dia sedang pilek. Ibu tak tahan melihatnya kesakitan, maka ibu pun menyedot ingus dari kedua lubang hidung itu dengan mulut ibu. Betapa sayang ibu padanya.

Kala hari libur tiba, ibu menyempatkan waktu mengajarinya menjaga keseimbangan bersepeda roda empat (dua ban di depan dan di belakang, dua ban di samping kiri dan kanan sebagai pembantu keseimbangan). Sungguh senang dia bisa mengayuh di jalan yang luas. “Aku bisa bersepeda!” tak berapa lama, akhirnya dia bisa mengendarai sepeda, cukup dengan dua roda. Alhamdulillah”

“Yang Penting Kamu Sudah Berusaha, Nak”

Hari penerimaan rapor tiba. Dia tak bisa menjadi rangking pertama di kelas. Sungguh muram mimiknya. Akan tetapi, ibu tak luput menghiburnya, “Tidak perlu sedih. Yang penting kamu sudah berusaha,Nak! Kembali cerialah dunia!! Dia tak perlu bersedih. Ada ibu yang senantiasa membesarkan jiwanya, mengajarkannya menegakkan kepala menghadapi dunia, tak perlu melulu sedih tersungkur kala gagal namun segera bangkit dan kembali menatap kedepan dengan berbinar penuh semangat dan tawakal pada Allah. “Jangan perah takut selama engkau berada dalam kebenaran”. Dia senantiasa ingat pesan yang dalam itu.

Di Negeri Seberang Aku Membelah Angin Dan Terik Matahari.

“Dia” yang dulu, kini telah menjadi “Aku”. “Aku sekarang sudah dewasa, Ibu! Aku sekarang sudah dewasa, Ayah!

Di negeri seberang aku belah angin dan terik matahari. Aku berjalan sembari menerjang hantaman air hujan. Bukankah, Aku tak boleh menjadi penakut? Alhamdulillah, tanganku sempurna berjumlah dua, kakiku sempurna tegap melangkah. Aku tak boleh jadi penakut bukan? Selalu ada Allah yang akan menolongku dengan rahmatNya, selagi aku mengesakanNya dan bertakwa padaNya. Aku memegang prinsip itu.

Ibu dan ayah , aku kini berada di dunia baru yang lebih terang. Dunia yang menaungi para orang shalih pendahulu kita (as-salafush shalih). Aku bahagia dengan dunia ini : Al Qur’an dan Assunnah dengan pemahaman para as-salafush shalih. Bahagia yang dalam, bukan hanya sebatas senang yang sesaat. Aku temukan Islam yang kucari. Inilah dia pegangan hidupku!

Aku berbagi cerita ini sambil menangis…

Kubayangkan kenikmatan abadi yang akan kuperoleh jika aku bisa bertahan dalam kesabaran dan keyakinan akan janji Allah. Pastinya akan banyak ujian yang harus kulalui, seiring semakin besar pengakuan cintaku pada jalan ini, karena Allah.

Betapa aku berharap Allah senantiasa mengaruniaku hidayah untuk senantiasa mengingatNya dan berdoa hanya kepadaNya. Tak lupa pula kudoakan ibu dan ayah. Semoga Allah senantiasa menyayangi serta menjaga kita dan keluarga kita, di dunia dan akhirat. Di dunia, yaitu di saat bumi dan penghuninya sedemikian carut-marut ini. Di akhirat, yaitu di saat tak ada lagi pertolongan dan keselamatan selaindari Allah Rabb semesta alam.

Aku Akan Ceritakan Diriku Yang Sekarang

Ibu, Ayah, aku akan bercerita sedikit saja tentang diri anakmu ini sekarang.

Sewaktu kecil, ayah rajin mengantarkanku belajar membaca Al-Qur’an pada seorang ustadzah tiap hari kamis. Tahukah ibu dan ayah, kini aku bukan hanya sekedar belajar membaca Al-Qur’an. Hari-hariku penuh dengan haru biru bersama al-Qur’an dan hadits-hadits nabi shalallahu’alaihi wassalam. Sungguh jarang aku merasa sedih karena dunia. Adapun jika sedih itu dating, pastilah karena maksiat dan dosa yang telah kuperbuat. Ibu dan ayah, sungguh ini adalah jejak-jejak panjang yang kudapat, kelanjutan pijakan-pijakan kecil yang dulu ibu dan ayah membantuku untuk menderapnya.

Tahukah ibu dan ayah, sekarang aku sudah pandai membaca deretan-deretan huruf arab dari kitab-kitab para ulama, yang tak bertorehkan harokat? Ini adalah buah kesabaran ibu dan ayah mengajariku membaca dan menulis semenjak kecil. Berbahagialah atas karunia Allah ini, wahai ibu dan ayah yang kusayangi karena Allah…

Aku pun tak luput memperbaiki ibadah dan akhlakku. Itulah yang menjadi kesibukan saat ini. Aku juga tak luput mengurusi duniaku, untuk menjaga harga diriku. Cukuplah aku bekerja keras dengan kedua tanganku, agar tak menengadah memelas wajahku meminta belas kasih orang lain. Ibu dan ayah, inilah sekuntuk kebahagiaan yang begitu ingin kuceritakan selama ini pada kalian berdua.

Adapun Komentar Mereka, Maka Jangan Terlalu Diambil Hati

Banyak orang yang berbisik pada ibu dan ayah bahwa anaknya di negeri seberang entah menjatuhkan dirinya ke lubang sekelam apa sekarang. Ibu dan ayah berjuang melawan itu semua dan meyakinkan diri mereka sendiri “Anakku tak seperti sangkaan orang. Dia adalah anak yang bisa dipercaya”.

Aku menangis bukan karena takut pada tatapan aneh pada manusia, atau perkataan mereka yang mengiris bagai sembilu. Aku menangis melihat wajah murung ibu berhari-hari. Tak lain dan tak bukan, karena telah memikirkan aku yang telah berubah.

Ibuku sayang…

Anakmu ini mohon maaf jika akan jujur berbicara. Sungguh akan kupilih kata yang paling indah agar kemurunganmu berubah menjadi merah cerianya fajar di garis cakrawala.

Aku Bangga Dengan Jalan Yang Kupilih Ini

Ibu dan ayah, jalanku ini bukan jalan baru yang sesat. Inilah jalan yang dahulu Berjaya, tetapi kini terasing. Kemuliaan akan kita peroleh, dengan ijin Allah, jika kita teguh di atas jalan ini.

Akan kuceritakan sedikit dari warisan Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam yang kujumpai sepanjang jalan ini :

– Manusia diperintahkan untuk mengesakan Allah dalam tiga perkara : 1. Rububiyah, 2. Uluhiyah, dan 3. nama-nama dan sifat-sifat Allah

– Kita diperintahkan untuk berpegang teguh pada Alqir’an dan as-sunnah dengan pemahaman para sahabat Nabi shalallahu’alaihi wassalam. Bukan berdasarkan pemahaman setiap orang [karena jika tolak ukur kebenaran adalah pendapat pribadi, maka pendapat siapakah yang akan kita jadikan sebagai tolak ukur??]

– Kita diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah, sebagaimana pula kita diperintahkan untuk memperbaiki akhlak kita, baik kepada khaliq (Allah) maupun makhlukNya

– Kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada orang tua dan karib kerabat, menyambung tali silaturrahim dengan mereka, berbuat baik dan tidak mengganggu tetangga , serta memuliakan tamu.

– Kita senantiasa diingatkan tentang siksa neraka jika timbangan keburukan kita nanti lebih berat dibandingkan timbangan kebaikan kita.

Dengan bekal sebanyak itu , bagaimana boleh aku gegabah dan semena-mena pada ibu dan ayah. Dalam menjelaskan sikap yang kupilih ini pun demikian. Sayang dan sabarku karena Allah, jadi penyanggaku untuk mengajak ibu dan ayah meniti jalan keselamatan bersamaku.

Biarkan Dunia Yang Menyampaikannya

Ibu dan ayah, surat ini mungkin tidak akan pernah benar-benar sampai ke hadapan kalian. Tidak diantarkan burung merpati, tidak pula diterbangkan angin.

Surat ini kutitipkan pada dunia. Biarlah mereka yang akan menyampaikan tanda cinta karena Allah ini kepada ibu dan ayah.

Semoga Allah melindungi jiwa-jiwa kita dari kebinasaan, di saat manusia menceburkan sendiri dirinya ke dalam malapetaka.

Semoga Allah memberikan naungan kepada kita, di hari yang tak ada naungan disana selain naunganNya.

Semoga Allah mengumpulkan aku, ibu, ayah, dan orang-orang yang kita cintai karena Allah, di Firdaus al-a’laa, bersama para nabi, shiddiqiin, syuhadaa’, dan shalihiin.

Laa hawla wa laa quwwata illaa billa.

Aamiin, yaa mujibas saa’ilii .. (bm)

Diketik ulang dari majalah nikah vol 7 ed 12

Sumber: http://www.enkripsi.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: