IBU DARI ANAK-ANAK KITA : dulu engkau memujinya dan dalam sekejap semuanya terlupakan…

Kebaikan segala urusanmu, kembali kepada soal akhlak dan prilaku Didiklah diri kita dengan akhlak, niscaya kita akan lurus selalu Jiwa akan menjadi yang terbaik, bila dalam keselamatan adanya Jiwa menjadi yang terburuk bila tenggelam dalam kegemerlapan dunia

Tidak biasanya, ia menelponku di waktu Zhuhur. Ia mengatakan bahwa ia akan segera datang. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Nada suaranya berubah. Kemungkinan ada sesuatu yang terjadi.

Ia adalah seorang pemuda setengah umur. Uban di atas kepalanya menunjukkan kesedihannya selama ini. Itulah yang dia ungkapkan.

Semoga Allah memberikan kesehatan kepadamu, istri dan anak-anakmu. Namun engkau memberikan isyarat kesedihanmu. Rambutmu ditumbuhi uban, padahal engkau masih muda belia..

Ia mengangkat kepalanya dan berkata: “Tidak demikian. Karena aku membawa berbagai kesedihan.” “Yang membawa semua kesedihan itu adalah istri. Ia yang mengotori kehidupanmu dan merusak kejernihan hari-harimu.” katanya. “Jangan bicara begitu wahai saudaraku.” kataku. “Redam kemarahanmu, dan timbanglah perkara itu. Bukankah istrimu memberi dukungan kepadamu dan menghormatimu. Cukup sebagai ukuran, bahwa ia adalah ibu dari anak-anakmu. Ia yang mengasuh mereka, mengajar mereka dan memperhatikan kebutuhan mereka. Apakah engkau bisa menerima bila engkau sendiri berbicara tentang dirinya sekarang? Kemarahan telah membuat dirimu lupa segalanya. Ketergelincirannya, seolah menghilangkan segala kebaikannya…

Kalaupun itu betul, di mana letak kesabaran dan ketabahanmu?

Berbuat baik kepadanya… bukanlah dengan sekedar menyakitinya, tidak! Bahkan bersabar dari perilakunya, bersabar ketika ia marah…

Sebagian kemarahannya sudah teredam. Namun ia melanjutkan bicara: “Tak pernah berlalu satu minggu pun bagi kami tanpa pertikaian, bahkan banyak pertikaian. Ini sudah cukup agar engkau memaklumiku. Jangan heran terhadap kemarahan dan kemurkaanku.” Aku bertanya: “Hanya karena percekcokan-percekcokan itu?” Dengan cepat, ia menjawab: “Tentu saja, karena itu.”

“Dan kamu… Apakah engkau yakin bahwa ia adalah penyebab dari semua percekcokan itu? Sedang engkau sendiri terbebas dari kesalahan?”

Sungguh saya melihat sendiri bahwa banyak di antara wanita menanggung keburukan akhlak dari suami-suami mereka. Mereka bersabar ketika suami mereka marah. Sang suami bisa saja memerintah, melarang, melecehkan dan memberi beban, bahkan lebih daripada itu. Sementara ia sendiri lepas tangan?

Aku menambahkan: “Sekarang coba saya bertanya kepadamu lebih dari satu pertanyaan.” Ia mengibaskan tangannya seraya berkata: “Saya akan menjawabnya dengan jujur. Aku ingin menyelesaikan permasalahanku. Aku sudah lelah menghadapi kondisiku selama ini.”

Aku menoleh kepadanya: “Jangan berikan jawabanmu sekarang. Biarlah engkau menjawab sendiri, antara engkau dengan dirimu. Aku akan menjadikan dirimu sebagai hakim. Dalam dirimu sekarang ada permusuhan. Kamu sebagai musuh, dan kamu juga yang menjadi hakim.

Yang jelas pasti, bahwa tidak ada persoalan politik yang menyebabkan engkau membenci istrimu…

Dahulu, engkau memuji agama dan akhlaknya, juga kerapiannya. Dalam waktu sekejap, semuanya terlupakan…

Makanan keasinan, kurang bumbu atau penyedap, sedikit-sedikit menjatuhkan barang, menghilangkan kancing baju, menyetrika tidak beres, dan lain-lain.. Akhirnya ia terpaksa pulang ke rumah orang tuanya… Sebuah petaka besar…

Bila ia lupa atau salah sedikit, diancam, digertak bahkan dihukum… Berapa banyak rumah tangga yang hancur. Berapa banyak pula anak-anak yang disia-siakan. Kemudian beberapa tahun kemudian, engkau pun akan menyesal..

Kalau kuceritakan kisah kemarahanmu dan kedatanganmu kepadaku ini, dimisalkan orang lain yang mengucapkannya, pasti engkau sendiri akan heran. Bahkan bisa jadi engkau akan mengejeknya, “Kenapa dia tidak bersabar menghadapi istrinya?”

Urusan ini tidak memerlukan penyelesaian semacam itu. Setiap rumah tangga pasti memiliki polemik…

Aku bertanya: “Bukankah demikian? Bila benar demikian, kenapa engkau melakukan tindakan melampau batas? Kemudian kalaupun ia adalah penyebab terjadinya permasalahan tersebut, apakah engkau tidak turut berperan? Atau engkau adalah manusia sempurna? Kalau aku boleh berkata secara berlebihan, aku katakan: “Bisa jadi engkau adalah penyebab utama dari persoalan tersebut. Engkau berperan bagaikan seekor singa… Aku mulai sedikit perlahan. Kulihat kerut wajahnya, tampak mulai berubah.

“Wahai saudaraku.. Orang yang paling berhak melihat wajahmu yang berseri adalah istrimu. Yang paling berhak mendapatkan kemurahanmu adalah rumahmu…

Engkau sebagai seorang lelaki, hari ini engkau memiliki seorang saudari, dan besok engkau akan memiliki seorang putri. Bukankah engkau senang jika perlakuan baikmu terhadap istri itu dilakukan pula oleh seorang suami terhadap putrimu? Bila jawabannya adalah ya, berarti itulah sebaik-baik perlakuan. Berarti engkau adalah lelaki terbaik. Terimalah kabar gembira di dunia dan di akhirat. Karena yang menghormati wanita hanyalah lelaki yang mulia, yang melecehkan wanita hanyalah lelaki yang hina.

Bila jawabannya adalah tidak, maka aku mengingatjan dirimu terhadap Allah dan hari Akhirat.

Ketahuilah, bahwa yang pertama kali beruntung atas akhlakmu yang baik adalah dirimu sendiri. Dengan itu urat sarafmu akan menjadi tenang, urusanmu akan menjadi beres, dan anggota keluargamu akan mencintai dirimu…”

Dengan gerakan lembut, aku menggerakkan tanganku: “Sederhanakan saja urusan itu, niscaya ia akan menjadi sederhana. Ia adalah ibu dari anak-anakmu…

Ia melayanimu, namun ia tidak mengeluh. Ia mengorbankan masa mudanya dan kesehatan tubuhnya, namun ia tidak menuntut banyak. Setiap hari, ia memanggilmu…

Bisa saja engkau merasa senang, padahal kehidupan ini pahit rasanya

Bisa saja engkau merasa senang, sementara orang-orang sedang murka

Bila tulus cintamu, segala sesuatu menjadi ringan

Karena segala yang berada di atas tanah adalah tanah adanya

Bila ada seorang lelaki yang melayanimu sehari atau dua hari, dengan berlebihan engkau akan memujinya, karena kemurahan hatinya, akhlak dan perilakunya. Sementara istrimu melayanimu selama bertahun-tahun lamanya, namun engkau tidak berterima kasih..

Padahal ia ibu dari anak-anakmu. Bersabarlah atas kekurangannya, ampuni saja segala kekeliruannya. Namun perhatikan kebaikannya, dan berterimakasihlah kepadanya. Dapatkanlah cintanya, dan jujurlah dalam mencintainya. Sebelum itu, engkau pun sudah mendapatkan pahala..

Aku melanjutkan ucapanku: “Yakinilah, bahwa perbuatan jeleknya terhadapmu sedikit sekali jika dibandingkan dengan kemarahan dan ketegangan sarafmu terhadapnya.

Segala yang engkau keluarkan dari kesehatanmu, waktu dan kesenanganmu, dan hilangnya cinta kasih di antara kalian berdua, semua itu lebih mahal dan berharga, dari persoalan yang membuatmu marah… Bukankah begitu?”

Aku ingin membuatnya tenang: “Semua ini hanyalah persoalan yang datang melintas, melewati semua manusia, asal jangan melampaui batas dan meninggalkan nilai negatifnya..

Saudaraku! Bukankah kita di dunia ini untuk beribadah? Bukankah kita tahu bahwa di antara bentuk ibadah adalah akhlak yang baik. Engkau mendapatkan pahala dengan sekedar menyuapkan sekerat makanan ke mulut istrimu. Harta yang engkau belanjakan untuk rumah tanggamu, adalah sebaik-baiknya harta sedekah meski dalam jihad. Sementara engkau mencarikan untuk mereka rizki yang halal. Hidup bukanlah sekedar perintah dan larangan dalam Islam. Pergaulan antara suami istri lebih penting dari itu..

Kemudian, coba aku bertanya lagi kepadamu: “Kemana perginya kewibawaan kaum lelaki?”

Sumber: Perjalanan Menuju Hidayah karya Abdul Malik Al-Qasim (penerjemah: Abu Umar Basyir), penerbit: Darul Haq, cet. 1, Ramadhan 1422 H / Desember 2001 M. Hal. 149-155.

Sumber: http://www.menujuhidayah.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: