Menempuh Jalan di Atas Ridha Allah

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Ma`idah: 35)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

Al-Wasilah (perantara). Sebagian mufassirin menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah al-qurbah (pendekatan diri), sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas c dan ini (juga merupakan) pendapat Mujahid, Abu Wa`il, Al-Hasan, Qatadah, Abdullah bin Katsir, As-Suddi, dan yang lainnya rahimahumullah.
Qatadah t berkata: “(Maknanya yaitu) mendekatkan dirilah kepada-Nya dengan ketaatan dan beramal dengan sesuatu yang mendatangkan keridhaan-Nya.”
Ibnu Katsir t menerangkan bahwa tidak ada perselisihan di kalangan mufassirin tentang makna (kata) ini. Beliau lalu menambahkan bahwa wasilah juga memiliki makna sesuatu yang ditempuh untuk mencapai maksud (tujuan). Demikian pula wasilah adalah satu nama bagi kedudukan tertinggi dalam jannah, yaitu kedudukan Rasulullah n dan rumahnya. Dan ini merupakan tempat di dalam jannah yang terdekat dari Arsy.
Lalu beliau menyebutkan hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dari Jabir bin Abdullah z bahwa beliau berkata: Rasulullah n bersabda:

“Barangsiapa yang setelah adzan berdoa: ‘Ya Allah, Rabb yang memiliki pangilan yang sempurna (panggilan tauhid, pen) dan shalat yang (hendak) ditegakkan, berikanlah al-wasilah kepada Muhammad dan keutamaan, bangkitkanlah dia pada kedudukan terpuji yang telah engkau janjikan’, dia berhak mendapatkan syafaatku pada hari kiamat.”
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash c bahwa beliau mendengar Nabi n bersabda:

“Jika kalian mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang dia ucapkan, kemudian bershalawatlah kepadaku, karena sesungguhnya barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah untukku al-wasilah, karena sesungguhnya itu merupakan kedudukan di dalam surga yang tidak sepantasnya didapatkan kecuali bagi seorang dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap akulah yang meraihnya. Maka barangsiapa yang memohonkan (kepada Allah) untukku wasilah, maka halal atasnya syafaat.” (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 2/53-54)

Penjelasan Makna Ayat
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t berkata dalam menafsirkan ayat ini:
“Ini adalah perintah dari Allah I kepada hamba-hamba-Nya kaum mukminin dengan sesuatu yang menjadi konsekuensi iman  berupa takwa kepada Allah I dan berhati-hati dari kemarahan dan kemurkaan-Nya.Yakni dengan cara seorang hamba bersungguh-sungguh semampu dia menjauhi segala apa yang mendatangkan kemurkaan Allah I dari berbagai kemaksiatan hati, lisan dan anggota tubuh, baik secara dzahir maupun batin. Juga meminta pertolongan kepada Allah I agar mampu mening-galkannya, agar dia selamat dari kemurkaan Allah I dan siksaannya.”

“Dan tempuhlah al-wasilah menuju jalan-Nya,” (maknanya) yaitu mendekatkan diri kepada-Nya, mendapatkan tempat di sisi-Nya, cinta kepada-Nya. Itu semua dilakukan dengan cara menunaikan berbagai kewajiban yang terkait dengan hati seperti cinta hanya untuk dan karena Allah I, rasa takut, berharap, kembali pada-Nya dan berta-wakkal. Demikian pula (kewajiban yang terkait) dengan jasmani, seperti membayar zakat dan menunaikan ibadah haji. Juga amalan yang berupa satu rangkaian ibadah seperti shalat dan semisalnya, serta berbagai bacaan dzikir.
Demikian pula berbuat baik kepada sesama makhluk, baik dengan harta, ilmu dan kedudukan, jasmani, dan saling menasehati sesama hamba Allah I. Semua jenis amalan ini bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah I. Senantiasa para hamba itu mendekatkan diri kepada Allah I sehingga Allah I mencintainya. Bila Allah I mencintainya maka pendengarannya, penglihatannya, gerakan tangannya, dan langkah kakinya senantiasa terbimbing oleh Allah I, sehingga Allah I-pun mengabulkan permohonannya.
Kemudian Allah I mengkhususkan di antara jenis ibadah yang mendekatkan kepada Allah I tersebut adalah berjihad di jalan-Nya. Yaitu mengerahkan segala kemam-puan dalam memerangi orang-orang kafir dengan harta, jiwa, pikiran, lisan, dan beramal untuk menolong agama Allah I dengan segala kemampuan yang dimiliki seorang hamba. Sebab, jenis ini termasuk ketaatan yang paling mulia dan cara utama dalam mendekatkan diri (kepada-Nya). Karena orang yang mampu menegakkannya, maka dia akan lebih mampu lagi menegakkan yang lainnya.

“Semoga kalian menjadi orang-orang yang beruntung.” (Maknanya yaitu kalian akan menjadi orang yang beruntung) bila kalian bertakwa kepada Allah I dengan meninggalkan maksiat dan mencari al-wasilah menuju kepada Allah I dengan mengerjakan berbagai ketaatan, dan berjihad di jalan-Nya dengan harapan mendapatkan ridha-Nya. Al-Falah adalah kemenangan dan keberutungan dengan segala sesuatu yang dicari dan diinginkan, serta selamat dari segala yang ditakuti. Hakekatnya adalah kebahagiaan abadi dan kenikmatan yang berkesinam-bungan. (Taisiir Al-Kariim Ar-Rahman, hal. 230)

Tujuan Menghalalkan Segala Cara?
Mungkin ada di antara sebagian kaum muslimin yang ingin menjadikan ayat ini sebagai hujjah untuk membenarkan berbagai macam perbuatan atau cara-cara yang menyelisihi Al-Qur`an dan As-Sunnah, dengan alasan bahwa apabila tujuan yang dikehendaki itu syar’i, maka cara apapun yang dilakukan untuk menuju kesana pun menjadi syar’i. Lalu menggunakan kaedah ushul yang umum yang menyebutkan bahwa al-wasa`il lahaa ahkaamul maqaashid (perantara itu memiliki hukum sama dengan maksud dan tujuannya). Lalu dimunculkanlah suatu kaedah yang mereka sebut “Tujuan mengha-lalkan segala cara” atau dengan bahasa yang diperhalus “Demi kemaslahatan dakwah.”
Ketahuilah wahai kaum muslimin, sesungguhnya kaedah “Tujuan menghalalkan segala cara” atau “Demi kemaslahatan dakwah” merupakan perkataan batil, yang dijadikan sebagai jembatan melakukan berbagai macam kesesatan dan penyim-pangan dari syariat Allah I dengan bersem-bunyi di belakang jubah agama dan mengatasnamakannya.
Sesungguhnya ucapan ini bukan termasuk ajaran yang dibawa oleh Rasulullah n. Namun lebih masyhur ucapan ini berasal dari kaum kafir barat sekuler yang mereka memang tidak memiliki pondasi agama. Berbeda dengan kaum muslimin yang diatur oleh agama dan syariat Allah I. Maka tidak boleh kaum muslimin menempuh suatu cara dalam agama kecuali dengan cara-cara yang syar’i pula. Allah I berfirman:

“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.” (Yusuf: 108)
Adapun mereka yang menjadikan tolok ukur kebenaran (adalah sesuatu yang bersumber) dari kelompoknya, maka mereka menganggap bolehnya seseorang menggunakan segala macam cara yang mungkin dilakukan demi kemaslahatan dakwah –menurut anggapan mereka– sehingga terjatuhlah orang-orang di antara mereka ke dalam berbagai pelang-garan terhadap syariat Allah I. Ada yang masuk ke parlemen dengan alasan dakwah. Ada lagi yang mendendangkan nasyid-nasyid bid’ah dan menjadikannya sebagai sarana dakwah. Ada pula yang membai’at para pengikutnya dengan alasan sebagai sarana dalam mengikat perjanjian seorang muslim di atas agamanya. Ada lagi yang menjadikan dzikir jama’i (dzikir bersama) sebagai sarana menambah keimanan.
Sebagian lain ada yang kerjanya di atas mimbar hanya bercerita kisah, pengalaman spiritual, atau dongeng dan mimpi-mimpi, lalu dijadikan sabagai sarana dakwah pula. Dan masih banyak lagi model-model bid’ah yang dijadikan sebagai sarana dalam berdakwah.
Ketahuilah –semoga Allah merahmati kita semua– bahwa lafadz al-wasilah dalam ayat di atas, atau al-wasa`il dalam kaedah ushul tersebut, maksudnya bukanlah segala macam cara, meskipun itu diharamkan. Karena jika demikian maksudnya, berarti telah meruntuh-kan nash-nash syariat dan beramal dengan hawa nafsu yang semakin menjauhkan dari jalan Allah U. Namun maksud dari wasilah tersebut adalah wasilah yang memiliki ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1. Wasilah tersebut tetap bernaung di bawah maksud dan ketentuan syariat
2. Tidak menyelisihi Al-Qur`an dan As-Sunnah.
3. Sesuai dengan qiyas yang shahih, bukan qiyas yang fasid (salah).
4. Tidak meninggalkan maslahat yang lebih utama. (lihat ‘Ibarat Muhimmah, Bazmul, hal. 6. Lihat pula kitab Al-Hujajul Qawiyyah, Abdus Salam bin Barjas, hal. 109)
Cukuplah di sini saya sebutkan fatwa sekaligus nasehat dari Syaikhuna Muqbil t ketika beliau ditanya tentang adanya sebagian kaum muslimin yang masuk menjadi pegawai sehingga terpaksa menjatuhkannya ke dalam sebagian perbuatan maksiat, dan mereka membolehkan hal itu (yakni menjadi pegawai) dengan alasan maslahat dakwah.
Maka beliau menjawab: “Maslahat dakwah merupakan perkara yang luas di mana setan menyeru kebanyakan manusia untuk menuju kepadanya. (Namun) Allah I mengatakan kepada Rasul-Nya n:

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (Al-Ghasyiyah: 21-22)
Dan firman-Nya:

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepada-mu.” (Hud: 112)
Juga Nabi n menyatakan:

“Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, lalu engkau istiqamah.” (HR. Muslim dari Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi)
Kaum musyrikin dahulu, mereka sangat berkeinginan agar Nabi n mau bersama mereka.

“Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (Al-Qalam: 9)
Mereka berkeinginan agar Nabi n bersama mereka, dan itu lebih ringan bagi mereka daripada sesembahan dan agama mereka beliau rendahkan. Namun Nabi n enggan dan berkata: “Wahai sekalian manusia, ucapkanlah ‘Laailaaha illallah’ kalian akan mendapatkan kemenangan.”
Kemaksiatan tidak akan menjadi sebab pertolongan. Kita tidak boleh berbuat seenaknya dalam agama Allah I. Nabi n bersabda:

“Tidakkah kalian diberi pertolongan dan rizki melainkan karena sebab orang-orang lemah dari kalian?!”(HR. Al-Bukhari dari Sa’d bin Abi Waqqash z)
Maka hendaklah kita mengamalkan berbagai sebab dan pertolongan dari sisi Allah I. Sedangkan mereka yang selalu menden-dangkan pemikiran tersebut, apakah mereka dalam keadaan seperti ini? Mereka sudah berjalan bertahun-tahun lamanya, apa yang telah mereka hasilkan untuk Islam? Dan apa yang mereka sanggup kerjakan? Berbagai peraturan perundang-undangan yang diimpor dari Amerika, Rusia, Prancis. Lalu setelah itu  kamu datang dan dihadapkan kepadamu satu masalah: Harus sesuai undang-undang…, harus sesuai peraturan. Sedang-kan Allah U berfirman dalam kitabnya yang mulia:

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (Asy-Syura: 10)
Dan firman-Nya:

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Ma`idah: 50)
Kita tidaklah mampu menolong diri kita. Boleh jadi ketika kita melakukan kemaksiatan justru akan menjadi sebab kekalahan. Bila seseorang masuk bersama mereka, baru saja dia bekerja selama lima atau enam bulan, gaji mulai meningkat, berbagai cara penipuan terbuka lebar, dan setan membuka kesempatan, begitu seterusnya. Baru beberapa lama ternyata dia telah terlantar dan goncang.
Maka kami katakan: Wahai saudaraku sekalian, kemaksiatan akan selalu diikuti kemaksiatan lainnya. Sungguh dahulu telah menjadi sebab kekalahan kaum muslimin pada perang Hunain disebabkan kebanggaan sebagian mereka (dengan jumlah yang banyak).

“Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (At-Taubah: 25)
Kemudian Allah I menurunkan ketenangan kepada mereka. Allah I berfirman pada peristiwa perang Uhud:

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka…” (Ali Imran: 152)
Maka kemaksiatan, wahai (saudaraku) fillah, akan menjadi sebab kehinaan dan timbulnya perasaan takut.
Silahkan orang-orang yang tertipu itu pergi ke Amerika dan ke Rusia, lalu tanyakan  kepada mereka: Apakah mereka takut kepada orang-orang yang komitmen dengan agamanya dari para pahlawan kebangkitan Islam atau mereka takut kepada para jenderal, para pemimpin, atau para raja? Terhadap siapa mereka takut? Mereka tidak takut kepada tank-tank milik kita dan tidak pula takut kepada pesawat dan persenjataan kita. Mereka takut kepada Islam dan orang-orang yang komitmen dengan Islam. Mereka ingin menjadikan kita goncang dan terpental (dari Islam). Ini seperti yang aku katakan kepada kalian, merupakan trik-trik orang yang guncang dan terlantar. Mereka memiliki trik-trik yang jitu untuk menarik para pemuda menuju harta. Sementara Nabi n diberi pertolongan oleh Allah I dalam keadaan beliau faqir. Beliau pernah mengikat batu di atas perutnya. Nabi n bersabda:

“Barangsiapa yang mempersiapkan pasukan dalam keadaan sulit (perang Tabuk-pen) maka baginya jannah.”
Sedangkan orang yang terlena dengan gaji bulanannya dan hartanya, maka dia tidak akan mampu mempersiapkan pasukan dalam keadaan sulit atau pun terdorong untuk berinfak. Maka sepantasnya seorang penuntut ilmu mengetahui bahwa apa yang ada di sisi Allah I itu lebih baik dan kekal. Akan dikatakan kepada Ahlul Qur’an (pada hari kiamat) sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash c:

“Bacalah, dan terus naik (ke tingkatan jannah yang atas, pen.) dan bacalah dengan tartil. Sesungguhnya kedudukanmu terdapat pada akhir ayat yang engkau baca.”
Atau yang semakna.
Demikianlah wahai saudaraku, tidak sepantasnya mereka mempengaruhi kita. Allah I berfirman:

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash: 83) [Ijabatus Sa`il, hal. 277-279. Lihat pula jawaban Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam terhadap syubhat yang membolehkan ikut pemilu dengan alasan agar musuh Islam tidak menguasainya, dalam kitab Mafasidul Intikhabat hal. 245-247]
Semoga Allah I memelihara kita dari berbagai macam fitnah yang dzahir maupun yang batin.
Wallahu a’lam.

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: