Mewujudkan Rumah Tangga Bahagia

Oleh: Al Ustadzah Ummu Ishaq Al Atsariyah

Pembicaraan tentang pernikahan sudah sering berulang. Namun, apabila kita membaca tulisan-tulisan ilmiah dari orang yang berilmu baik dari ulama maupun penuntut ilmu syar’I tetang masalah ini, sepertinya ada saja sisi yang menarik untuk disampaikan kepada pembaca dan perlu diingatkan kepada insane yang akan atau telah melangsungkan pernikahan. Untuk yang akan menikah, maka semoga bisa menjdai bahan renungansebelum melangkah. Adapun bagi yang sudah menikah, diharap bisa menjadi bahan introspeksi untuk mempartahankan apa yang telah dijalani dan dapat membawa bahtera ke ‘pulau bahagia’ yang diimpikan

Tulisan di bawah ini pun idenya berawal dari hasil membaca artikel yang cukup panjang tentang rumah tangga dan pernikahan karya asy-Syaikh Salim al-‘Ajmi hafizhahullah yang dimuat di Muntadayat al Ukht as Salafiyyah, sebuah situs internet yang khusus ditujukan untuk para muslimah. Muncul rasa ingin berbagi kepada pembaca muslimah…

Dengan menengadahkan kedua tangan memohon kepada Rabbul Alamin agar dianugerahi keikhlasan dalam berbuat, kami pun menyusun bukilan-nukilan dari tulisan tersebut ditambah narasumber yang lain. Semoga bisa member manfaat untuk sesama.

Ketahuilah wahai muslimah!

Berdirinya sebuaah rumah tangga yang dipenuhi kebahagiaan adalah tujuan yang ingin dicapai dan cita-cita yang ingin diwujudkan oleh setiap orang. Rumah adalah tempat berdiam yang selalu dituju setelah diterpa kelelahan dan kepenatan di luar sana. Apabila seseorang pulang ke rumahnya lalu didapatinya rumah yang tenang dan dirasakannya ketentraman di dalamnya, berarti kebahagiaan ada bersamanya. Betapa banyak rumah yang kecil dan sempit, namun kebahagiaan menjadikannya luas lagi lapang.

Sebaliknya, betapa banyak kediaman yang besar dan luas, namun kegersangan menjadikannya lebih sempit dari pada lubang jarum. Tidak ada keinginan penghuninya selain meninggalkan rumah tersebut. Tidak ada kebetahan berdiam di dalamnya. Mereka berusaha mengobatirasa sempit mereka dengan lari dari sebab-sebabnya. Ternyata, rumah mereka telah ‘roboh’  diempas oleh badai kesengsaraan.

Untuk mewujudkan sebuah ‘rumah bahagia’, sudah merupakan keniscayaan seorang lelaki menggandeng tangan seorang wanita untuk hidup bersamanya di rumah tersebut dalam ikatan yang suci. Kebersamaan ini merupakan tujuan agung, yang dengannya terwujud kasih saying, kedekatan dan persahabatan.

Kebersamaan dalam nikah termasuk kenikmatan terbesar yang diberikan Allah subhanahu wata’ala kepada para hamba. Dengannya, dihasilkannya ketenangan yang dapat memenuhi hati sepasang insane.

Sungguh, tidak ada kebersamaan insa yang menyamai pernikahan. Karena itulah Allah berfirman mengingatkan nikmatnya tersebut, sementara Dia adalah Dzat yang paling benar ucapan-Nya:

 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS.ArRum:21)

Sepanjang apapun pencarian seseorang dalam hidupnya guna beroleh teman yang dapat membuatnya tenang dan tentram jiwanya saat berdekatan, dia tidak akan mendapatkan teman yang semisal seorang istri. Sebaliknya, seorang wanitapun tidak akan beroleh teman semisal suami. Inilah fitrah insane yang kita tidak bisa lari dan lepas darinya.

Allah berfirman:

“Dialah yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu (Adam) dan dari jiwayang satu itu Dia jadikan pasangannya (Hawa) agar si jiwa yang satu merasa tenang dengan keberadaan pasangannya.” (QS. Al-A’raf:189)

Seandainya Allah menjadikan anak Adam itu seluruhnya laki-laki dan dijadikan-Nya perempuan mereka dari jenis yang lain , bukan jenis manusia, mungkin dari jenis jin atau hewan, niscaya tidak mungkin terjalin kedekatan di antara mereka. Yang terjadi justru yang satu akan lari menjauh dari yang lain.

Di samping menjadikan pasangan manusia adalah manusia juga, pria berpasangan dengan wanita sebagai istrinya, Allah juga menyempurnakan nikmat-Nya kepada anak Adam dengan ditumbuhkan-Nya rasa cinta dan kasih sayangdi antara suami istri tersebut. Seorang lelaki tetap menahan seorang wanita dalam ikatan pernikahan dengannya, bisa jadi karena dia mencintai istrinya tersebut, atau dia menyayanginya dengan adanya anak yang terlahir dari si istri, atau karena istrinya butuh kepadanya untuk beroleh indak/belanja, atau adanya kedekatan di antara keduanya. (Tafsir Ibni Katsir, 6/171)

Siapa yang merenungkan hal ini niscaya dia akan berusaha dengan serius mencari belahan dirinya yang hilang. Barangkali, belahan jiwanya bisa didapatkan pada seseorang yang menentramkan pandangan matanya, menengkan jiwanya, dan membahagiakan dirinya. Sesuatu yang sekian lama dirasakannya sebagai ruang yang belum terisi dalam hatinya. Tatkala pada akhirnya dia mengakhiri kesendiriannya dengan menikah, tertutuplah kekosongan ruang tersebut. Kini, telah ada yang mengisi kebahagiaan hatinya.

Saat seorang lelaki yang saleh mencari tambatan hatinya, tentu tidak pernah lupa menghadirkan sabda Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam yang mulia:

“Dunia itu perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah.” (HR. Muslim no.3638 dari Abdullah ibnu Amr ibnul Ash)

Kata Rasul, dunia berikut isinya tidak lain hanyalah kesenangan dan perhiasan. Sebaik-baik kesenangan yang bisa dinikmati oleh seorang hamba di dunia ini adalah wanita salehah, yang akan menjadi perhiasan bagi rumahnya. Apabila dia memandangnya, dia merasa senang. Apabila dia pergi, si wanita akan menjaga dirinya untuknya dan menjaga hartanya.

Karena itulah, seorang penyair Arab berkata:

Yang paling utama yang diperoleh seorang pemuda setelah petunjuk dan afiah/kesehatan/kelapangan adalah teman muslimah yang menjaga kehormatan dirinya.

Rasulullah pernah bersabda tentang kebahagiaan dan kesengsaraan. Beliau mengatakan:

“Tiga perkara termasuk kebahagiaan dan tiga perkara termasuk kesengsaraan. Yang termasuk kebahagiaan adalah wanita salehah, yang apabila engkau lihat akan mengagumkanmu, apabila engkau pergi meniggalkannya enkau merasa aman dari (pengkhianatan/perselingkuhan) nya (karena dia menjaga dirinya untukmu) dan aman hartamu (karena dia menjaga hartamu). (yang kedua) tunggangan yang jinak atau tangkas (enak ditunggangi) sehingga dia menyusulkanmu dengan teman-temanmu (tidak membuatmu tertinggal dari rombongan), dan (yang ketiga) rumah yang luas lagi banyak ruangannya. Termasuk kesengsaraan adalah istri yang apabila engkau melihatnya tidak menyenangkanmu, lisannya menyakitimu, apabila engkau pergi meninggalkannya engkau tidak merasa amandari pengkhianatannya dan tidak aman hartamu (karena ia tidak menjaganya, bahkan berkhianat dalam hal dirinya dan harta suami). (yang kedua) tunggangan yang lambat, tidak nyaman dinaiki. Apabila engkau memukulnya, dia akan membuatmu capek, namun apabila engkau biarkan dia tidak bisa menyusulkanmu dengan teman-temanmu (membuatmu tertinggal dari rombongan). (yang ketiga) rumah yang sempit lagi sedikit ruangannya.”(HR.al_Hakim 2/162, dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 1047)

Ali bin Abi Thalib, sahabat Rasulullah yang utama, sekaligus saudara misan dan menantu beliau, pernah berkata”Termasuk kebahagiaan seorang lelaki apabila ia memiliki istri yang salehah, anak-anak yang berbakti, saudara-saudara yang mulia, dan tetangga yang baik, ditambah lagi rezekinya bisa diperoleh di negerinya sendiri (tidak perlu merantau untuk mencari rezeki).”

Rasulullah bersabda kepada Umar ibnul Khaththab:

Maukah aku beri tahukan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki? Yaitu istri salehah yang apabila dipandang akan menyenangkannya, apabila diperintah akan mentaatinya, dan apabila ia pergi si istri akan menjaga dirinya untuk suaminya.” (HR. Abu Dawud no. 1417, dinyatakan sahih menurut syarat Muslim dalam al Jami’ush Shahih 3/57).

Ketika umar ibnul Kaththab menanyakan harta terbaik yang dimiliki seorang insane, Rasulullah menjawab:

“Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang berzikir, dan istri mukminah yang membantunya dalam urusan akhiratnya.” (HR. Ibnu Majah no. 1856, dinyatakan sahih dalam Shahih ibni Majah)

Merupakan kemestian bagi seorang wanita, apabila datang seorang lelaki kepada walinya, hendaknya ia memerhatikan kebaikan agamanya dan akhlaq si lelaki tersebut. Hal ini karena orang yang diterimanya sebagai teman hidupnya nanti adalah surge dan nerakanya. Ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasul kepada bibi Hushain ibnu Mihshan kala mendorongnya untuk membaikkan pergaulannya terhadap suaminya.

“Dia adalah surge dan nerakamu.” (HR. Ibnu Abi Syaiban dan yang lainnya, dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah hlm.285)

Sungguh termasuk kebahagiaan terbesar bagi seorang wanita apabila dianugrahi suami yang saleh, yang menjadi pelipur laranya, teman berbagi suka dan derita, yang selalu melapangkan diri untuk menolong pekerjaannya, menjadi peopang yang kuat dalam hidupnya, yang melindunginya saat dia merasa takut, yang mengisi harinya dengan kasih saying dan kelembutan.

Sumber: diketik ulang dan diringkas dari majalah asy-syariah volVII/no.75/1432 H/2011 hal 84-87)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: