Nikmat dari Cinta

Nikmat akan terasa jika seseorang mereasakan cinta. Maka, kenikmatan akan semakin besar selaras dengan kuatnya rasa cinta. Sebaliknya, kenikmatan akan berkurang sesuai dengan lemahnya cinta tersebut. Ketika keinginan dan kerinduan kepada yang dicintainya menggebu, semakin sempurnalah kenikmatan dalam menempuh jalan untuk menggapai dan mendapatkannya.


Hanya saja, besarnya cinta dan rindu sesuai dengan ilmu terhadap yang dicinta. Apabla ilmunya sempurna, cinta dan rindunya pun akan sempurna.
Jadi, kesempurnaan nikmat yang dirasakan seorang hamba sesuai dengan hal ini: ilmu dan cinta. Ilmu yang paling utama adalah ilmu Allah, sedangkan cinta yang paling tinggi adalah cinta kepada-Nya. Kesempurnaan kenikmatan pun sesuai dengan hal ini.
Padahal, seseorang yang beriman kepada Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah orang yang paling berilmu dan paling mencintai-Nya. Maka, dia adalah orang yang paling merasakan nikmat yang sempurna. Kenikmatan yang sempurna akan dia rasakan ketika berusaha mendekatkan diri kepada-Nya, dan akan memuncak ketika melihat wajah serta mendengarkan kalam-Nya. Seluruh kenikmatan, kelezatan, kebahagiaan dan keindahan apabila dibandingkan dengan itu seua seolah bagaikan setetes air dalam samudra yang luas tak bertepi.
Lalu bagaiman mungkin seorang yang berakal sehat lebih mengutamakan kenikmatan yang fana, sangat terbatas, serta penuh dengan berbagai penderitaan dari pada kenikmatan yang sangat besar, kekal selama-lamanya.
Sumber: diketik ulang dari majalah tashfiyah vol.02 edisi 13 hal 102

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: